Mantra Lapar: Jejak Jiwa di Bulan Ramadhan
Dengarlah… perut yang kosong bukanlah siksaan.
Ia adalah drum yang menabuh ritme kesadaran,
menggugah jiwa untuk sadar akan dirinya dan sesamanya.
Di masa Khalifah Umar, tangan yang menahan diri belajar memberi,
mata yang menatap langit menatap juga tetangga yang kelaparan.
Di Persia dan Mesir kuno, para sufi menahan lapar untuk menembus lapisan nafsu,
menemukan kebijaksanaan dalam hening dan kekosongan.
Bulan Ramadhan bukan hanya kalender, bukan sekadar ibadah,
ia adalah laboratorium spiritual:
di mana tubuh yang lapar menjadi guru,
di mana rasa haus menajamkan kesabaran,
dan di mana setiap detik menahan diri menyalakan rasa syukur.
Lapar adalah filosofi hidup yang berdenyut:
mengajarkan kita bahwa kepuasan jasmani hanyalah awal,
dan solidaritas, kesadaran, serta jiwa yang lapang lahir dari kosong yang kita rasakan.
Jangan takut lapar. Dengarkan ia.
Ia adalah suara sejarah, suara nabi, suara sufi,
yang menuntun manusia pada keseimbangan abadi antara tubuh, pikiran, dan jiwa.
