Ruang Publik — Portal Artikel Opini, Analisis Sosial, Ekonomi, dan Refleksi Spiritual yang Membuka Wawasan dan Memperluas Perspektif Publik Indonesia.Ruang Publik — Portal Artikel Opini, Analisis Sosial, Ekonomi, dan Refleksi Spiritual yang Membuka Wawasan dan Memperluas Perspektif Publik Indonesia.

Sisi Gelap Pemerintahan Bercahaya

23/6/20260 views
Sisi Gelap Pemerintahan Bercahaya

Sebuah Refleksi

Oleh: Siswan Ahalulu.M.Pd

Semakin dalam saya menyelam ke lautan data, saya berharap menemukan lebih banyak bukti yang membenarkan kegelisahan saya. Saya ingin menemukan lebih banyak angka yang merah, lebih banyak indikator yang turun, lebih banyak alasan untuk marah.

Dan saya tidak perlu menunggu lama.

Tidak dalam hitungan menit, layar gawai saya kembali dibanjiri oleh data-data yang membuat dada sesak.

Pemenuhan air bersih untuk masyarakat kita juga anjlok. Persentase rumah tangga yang mendapatkan akses air minum melalui SPAM jaringan perpipaan turun dari 90,71% menjadi 85,30%. Penurunan 5,41 poin ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada ribuan rumah tangga yang tadinya sudah menikmati air bersih, kini kehilangan akses itu. Apakah mereka berpindah ke air Gelon?

Yang lebih menyakitkan, persentase warga lansia (usia 60 tahun ke atas) yang mendapatkan layanan kesehatan standar nyungsep dari 95,34% menjadi 87,22%. Artinya, hampir 1 dari 10 orang tua kita kehilangan akses layanan kesehatan yang seharusnya mereka dapatkan. Apakah data laporan Bappeda ini yang keliru? Atau mungkin saya yang salah membaca?

Karena tidak sampai di situ, urusan pelayanan ini diperparah dengan perbincangan media sosial yang menyebutkan banyak keluhan dan kekecewaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit daerah, bahkan sampai di fasilitas pelayanan tingkat pertama, puskesmas. Bukan cuma soal pelayanan, soal manajemen dan transparansi pengelolaan juga banyak mendapat tanggapan miring.

Program-program pemerintah pun tak luput dari mata elang media daring. Gerakan 2 Kambing 10 Ayam misalnya, dinilai tidak memberikan dampak nyata kepada masyarakat, selain amburadulnya pengelolaan, krisis kepercayaan, vonis gagal di tengah jalan menjadi target sorotan dan perbincangan yang sampai saat ini tak kunjung padam.

Saya membaca semua itu dengan perasaan campur aduk. Marah, sedih, tapi juga — harus saya akui — puas.

Puas karena saya merasa menemukan apa yang saya cari. Puas karena data-data ini membenarkan kecurigaan saya. Puas karena saya yakin, kali ini saya punya cukup amunisi untuk membongkar sisi gelap Pemerintahan Bercahaya.

Jemari saya semakin liar menggesek layar. Mata semakin tajam mencari celah. Tapi di sinilah masalahnya dimulai.

Di tengah euforia "pembongkaran" itu, ada sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang tidak cocok dengan narasi yang sudah tersusun rapi di kepala.

Saya mencoba mengabaikannya. "Mungkin ini anomali," gumam saya. "Mungkin ini cuma kebetulan statistik." Saya menutup tab data itu, membuka yang lain. Tapi anomali itu muncul lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Awalnya saya ingin menolak. Saya ingin mencari celah. Saya ingin membuktikan bahwa angka-angka ini salah hitung, salah metode, atau setidaknya tidak menggambarkan realitas di lapangan.

Tapi semakin saya mencoba menyangkalnya, semakin ia menatap balik dengan dingin. Saya mulai goyah, semakin sulit rasanya mempertahankan kesimpulan yang sebelumnya sudah saya amini. Tetapi kali ini, kecurigaan mulai berubah menjadi kebingungan.

Bagaimana tidak? Jika ekonomi daerah memburuk, mengapa pertumbuhan ekonomi justru melonjak hingga 5,79 persen? Angka ini bukan saja melampaui target daerah, tapi juga menampar rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo.

Kalau masyarakat semakin terpuruk, mengapa angka kemiskinan justru turun menjadi 15,89 persen? Tidak semua orang merasakannya, tentu saja. Tapi faktanya, ada sekitar seribuan lebih keluarga yang berhasil keluar dari lingkaran kemiskinan dalam satu tahun terakhir.

Dan jika banyak yang mengeluhkan tentang kesejahteraan rakyat, mengapa pendapatan per kapita masyarakat meningkat, ketimpangan ekonomi membaik, cakupan jaminan sosial dan kesehatan yang sudah hampir 100 persen, bahkan perbaikan kualitas pembangunan manusia semakin mendekati kategori tinggi — setali tiga uang dengan nilai tukar petani yang naik.

Ada lagi rapor hasil kinerja yang mampu mempertahankan bahkan menyumbang peningkatan sebesar 68% indikator dari total indikator yang dipakai mengukur keberhasilan pembangunan daerah. Mengapa ini jauh dari perbincangan publik?

Semakin saya mencari, semakin aneh rasanya. Karena rapor pemerintah itu ditopang oleh berbagai program unggulan dan kebijakan strategis daerah yang juga terus berjalan dan mengalami perbaikan. Gerakan 2 Kambing 10 Ayam, misalnya, yang di awal pemerintahan sempat menuai kritik tajam, kini perlahan mulai menunjukkan perbaikan, bahkan secara alami, mulai menyebar ke kecamatan dan desa-desa lainnya. Mungkin belum sempurna, tapi setidaknya ada banyak upaya untuk membenahi.

Ada pula salah satu program yang sedang menemukan momentumnya saat ini adalah UMKM Bercahaya dan fasilitasi Bumdes–Kopdes percontohan untuk penguatan ekonomi kreatif. Sementara itu, inovasi seperti Motabi Kambungu terus digalakkan untuk mendekatkan pelayanan publik langsung ke desa-desa, sekaligus menguatkan reformasi birokrasi di tingkat akar rumput.

Ah, tidak mungkin. Ini pasti hanya nilai pencitraan semata. Angka di atas kertas pasti berbeda dengan realita di lapangan. Bisa jadi semua capaian program itu tak seindah kelihatannya. Toh, ada banyak juga kritikan dan kekecewaan yang menyatakan kinerja pemerintah jauh dari kata baik, bagus, dan meningkat seperti yang diklaim data di atas.

Lagian, kalau semua itu benar-benar nyata, seharusnya bisa terlihat, bisa dirasakan, dan mestinya ramai diperbincangkan di ruang publik. Kenapa harus saya yang menemukannya di tumpukan laporan?

Setiap kali pikiran saya berupaya memperbesar jurang antara fakta dan data, saat itu pula saya justru menemukan satu kesamaan yang tak terbantahkan. Semuanya sedang berproses meski tidak langsung terlihat. Semuanya sedang bekerja meskipun jauh dari diskusi, narasi, dan publikasi. Proses memperbaiki pondasi, mengurai dan menyelesaikan akar masalah, serta bekerja untuk masa depan yang tidak instan. Dan memang ini kurang menarik untuk dibicarakan. Namun seperti kata Aldous Huxley, "Fakta tidak berhenti menjadi fakta hanya karena diabaikan."

Saya terpaku menatap anomali yang ada. Setahun terakhir, data dan fakta yang buruk begitu mudah mendapatkan perhatian. Satu pelayanan mengecewakan, sering menjadi bahan diskusi berminggu-minggu. Beberapa program terhambat, langsung jadi perdebatan panjang. Bahkan mencari dan menghitung apa yang belum berhasil sangat mudah didapat dan viral di dua dunia — nyata dan maya. Dan sebaliknya, hal-hal baik yang dicapai pemerintah malah luput dari perhatian, dan terdiam dalam ruang publik.

Mungkinkah corong pemerintah yang kurang keras menggaungkannya. Atau malah corong ini sudah tenggelam dalam liputan seremoni dan formalitas, sehingga kehilangan makna dan substansinya.

Padahal semua orang tahu bahwa ketika lebih banyak berbicara tentang apa yang tidak berhasil, akan semakin sedikit yang bertanya tentang apa yang berhasil. Saat ramai orang membicarakan masalah, akan semakin sunyi pembicaraan tentang kemajuan. Dan ketika lebih sering kita berdebat tentang hambatan dan kegagalan, maka harapan, optimisme, dan masa depan akan semakin kabur.

Dan ini fatal.

Bagikan artikel ini:

Komentar (0)

Belum ada komentar.